BAB
II
PEMBAHASAN
Penyakit
Menular Seksual (PMS) sebagian besar menular lewat
hubungan seksual dengan pasangan yang sudah tertular. Hubungan seks ini
termasuk hubungan seks lewat liang senggama, lewat mulut (karaoke) atau
lewat dubur.
PMS juga disebut penyakit kelamin atau penyakit kotor.
Namun itu hanya menunjuk pada penyakit yang ada di kelamin. Istilah Penyakit
Menular Seksual lebih luas maknanya, karena menunjuk pada cara penularannya. Tanda-tandanya
tidak selalu ada di alat kelamin. Tanda-tandanya juga ada di alat penglihatan, mulut, saluran pencernaan,
hati, otak dan bagian tubuh lainnya. Contohnya HIV/AIDS dan Hepatitis B yang
menular lewat hubungan seks, tetapi penyakitnya tidak bisa dilihat dari alat
kelaminnya saja. Artinya, mungkin saja alat kelaminnya masih tampak sehat walaupun
orangnya membawa bibit penyakit-penyakit ini.
Tidak semua PMS dapat disembuhkan. PMS yang
disebabkan oleh virus, seperti HIV/AIDS, herpes kelamin dan Hepatitis B adalah
contoh PMS yang tidak dapat disembuhkan. HIV/AIDS merupakan yang paling
berbahaya. HIV/AIDS tidak dapat disembuhkan dan merusak sistem kekebalan tubuh
manusia yang memiliki peranan paling penting dalam melawan penyakit. Banyak
orang meninggal karena AIDS disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh mereka tidak
dapat melawan infeksi. Beberapa
PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi seperti Penyakit Radang Panggul
(PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi kehamilan. Sehingga,
pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan penting untuk
dilakukan.
Kadang
PMS tidak menunjukkan gejala sama sekali sehingga kita tidak tahu kalau kita
sudah terinfeksi. PMS dapat bersifat asymptomatic (tidak memiliki
gejala) baik pada pria atau wanita. Beberapa PMS baru menunjukkan tanda-tanda
dan gejala dalam kurun waktu yang cukup lama. Pada wanita, PMS bahkan tidak
dapat terdeteksi karena luka-luka PMS seringkali
terjadi di leher rahim, jauh di dalam sehingga tidak kelihatan dari luar. Sementara
pada laki-laki, luka-luka di mulut saluran kencing atau di saluran kencing juga
tidak selalu
kelihatan atau tidak disertai rasa nyeri. Walaupun
seseorang tidak menunjukkan gejala-gejala terinfeksi PMS dan tidak mengetahui
bahwa mereka terkena PMS, mereka dapat menularkan penyakitnya kepada orang
lain. Contohnya orang yang terinfeksi HIV biasanya tidak menunjukkan gejala
setelah bertahun-tahun terinfeksi. PMS tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan
penampilan luarnya saja. Walaupun orang tersebut mungkin terlihat sehat, mereka
masih bisa menularkan penyakit itu kepada orang lain. Kadang, orang yang sudah
terinfeksi PMS tidak sadar bahwa mereka mengidap virus PMS tersebut karena
mereka merasa sehat dan bisa tetap aktif. Hanya test laboratorium yang dapat
menunjukkan seseorang telah terinfeksi PMS atau tidak.
Perlu diperhatikan bahwa kontak seksual tidak
hanya hubungan seksual melalui alat kelamin. Kontak seksual juga meliputi
ciuman, kontak oral-genital, dan pemakaian ‘mainan seksual’, seperti
vibrator. Sebetulnya, tidak ada kontak seksual yang benar-benar dapat disebut sebagai ‘seks
aman’. Cara agar mendapatkan ‘seks aman’ adalah abstinensia (hanya
memiliki satu pasangan seks yaitu suami/istri yang sah).
Pada umumnya kondom dianggap sebagai
perlindungan terhadap PMS. Kondom sangat berguna dalam mencegah
beberapa penyakit seperti HIV dan gonore. Namun kondom kurang efektif
dalam mencegah herpes, trikomoniasis dan klamidia. Kondom memiliki
proteksi kecil terhadap penularan HPV (Human Papilloma Virus) yang merupakan
penyebab kutil kelamin.
A.
Penularan PMS
Infeksi (lebih tepatnya infeksi-infeksi) yang
digolongkan dalam PMS salah satu cara penularannya melalui hubungan seksual
(vaginal, oral, anal) dengan pasangan yang sudah tertular. Semakin sering kita
berganti-ganti pasangan seks semakin besar kemungkinan tertular PMS. Ada jenis
PMS yang efeknya terasa dalam tiga hari sesudah terpajan (terkena), ada pula
yang membutuhkan waktu lama. Sebaiknya PMS cepat diobati karena menjadi pintu
gerbang masuknya HIV ke dalam tubuh kita.
Penularan IMS juga dapat terjadi dengan cara lain, yaitu :
§
Melalui darah :
o
Darah dengan darah yang sudah terinfeksi HIV
o
Saling bertukar jarum suntik pada pemakaian narkoba
o
Tertusuk jarum suntik yang tidak steril secara sengaja/tidak
sengaja
o
Menindik telinga atau tato dengan jarum yang tidak steril
o
Penggunaan alat pisau cukur secara bersama-sama (khususnya jika
terluka dan menyisakan darah pada alat)
§ Dari ibu hamil kepada bayi :
o
Saat hamil
o
Saat melahirkan
o
Saat menyusui
Perilaku yang
dapat meningkatkan resiko tertular PMS, antara lain:
o Seks tanpa kondom
Meskipun pemakaian kondom
tidak berarti menjamin kita tidak terkena PMS, akan tetapi penggunaan kondom
adalah salah satu cara terbaik menghindari penularan PMS saat melakukan
hubungan seks. Pemakaian kondom selama berhubungan mempunyai efek mengurangi
risiko transmisi.
o Berganti-gantipasangan
Semakin banyak
pasangan yang dimiliki tentu saja risiko penularan PMS semakin tinggi. Para
pelaku yang berganti-ganti pasangan mempunyai kecenderungan yang mungkin tak
disadari oleh mereka bahwa pasangan yang biasa mereka pilih adalah yang juga
suka berganti-ganti.
o Mengenal seks sejak dini
tanpa edukasi yang baik
Hal ini karena
secara biologis para perempuan muda cenderung mempunyai badan yang cenderung
lebih kecil sehingga mudah terjadi robekan sewaktu melakukan intercourse.
Serviks mereka pun belum berkembang dengan sempurna sehingga lebih rentan
terkena chlamydia, gonore dan PMS lainnya. Para
usia muda jarang menggunakan kondom dan lebih cenderung mengambil risiko dalam
hal seksual apalagi kalau mereka dalam pengaruh alkohol.
o Pemakaian alkohol
berlebihan
Penggunaan alkohol
yang cukup sering dan jumlah berlebihan bisa menyebabkan pikiran Anda tidak
jernih untuk mengambil keputusan, termasuk perilaku seks tidak aman. Apalagi
kalau Anda sampai kehilangan kesadaran, bisa-bisa Anda terbangun di pagi hari
dengan perasaan bingung entah di mana dan bersama pasangan yang tak dikenal.
o Penggunaan obat-obat
terlarang
Penggunaan obat
terlarang menyebabkan diri kita tidak stabil dalam mengambil keputusan termasuk
mengenai hubungan seksual. Penggunaan jarum suntik yang berganti-gantian
meningkatkan risiko untuk terkena HIV dan Hepatitis.
o Melakukan hubungan seksual
karena butuh uang untuk gaya hidup
Tuntutan gaya hidup
yang serba canggih dan mahal tentunya membutuhkan uang banyak. Banyak remaja
dan dewasa muda melakukan segala cara untuk memenuhi kebutuhan mereka termasuk
melakukan seks demi gaya hidup yang sebenarnya jauh di atas kemampuannya Risiko
untuk penularan PMS sangat tinggi karena biasanya yang iseng melakukan seks
dengan para remaja dan dewasa muda ini adalah orang yang suka sekali
berganti-ganti pasangan.
o
Minum pil KB
untuk cegah PMS
Khawatiran terbesar
para pelaku seksual adalah kehamilan. Oleh sebab itu, mereka sering meminum pil
KB sebagai upaya pencegahan. Banyak yang mengira pil KB juga melindungi dari
PMS, padahal pendapat itu salah sekali dan patut diluruskan. Memang benar pil
KB bisa melindung dari risiko kehamilan, akan tetapi tidak dapat melindungi
Anda dari PMS.
B.
Jenis-jenis
Penyakit Menular Seksual
B.1
Penyebab Bakteri
·
Bacterial
Vaginosis (BV)
B.2 Penyebab Fungi/jamur
B.3
Penyebab Virus
B.4
Penyebab Parasit
B.5
Penyebab Protozoa
§ Gonorhea
Gonorhea adalah penyakit kelamin yang terjadi
pada pria maupun wanita. Disebut juga penyakit kencing nanah atau GO. Paling sering diderita oleh orang yang sering
melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan. Bisa
menular melalui hubungan seksual (vaginal, anal, oral). Kasus GO paling sering
terlihat pada pria yaitu kencing bernanah dan rasa panas pada saluran kencing
pria sesudah kencing. Pada wanita, kasus ini sebenarnya juga ada tapi tidak
terlihat dan terasa ‘sensasinya’ seperti yang pria rasakan. Pada pria, jika GO
dibiarkan maka akan menyebar ke seluruh organ tubuh termasuk jantung,
penyebaran kantung buah zakar akan menyebabkan peradangan (epididymitis).
Penyebabnya adalah Neisseria Gonorrhoea,
disebut juga gonokokus, berbentuk diplokokus. Kuman ini menyerang selaput dari
:
-
Vagina,
saluran kencing dan daerah rahim/ leher rahim
-
Saluran
tuba fallopi
-
Anus
-
Kelopak
mata
-
Tenggorokan
Tanda dan Gejala
Penularan
melalui oral, anal dan vaginal seks. Hampir 90% penderita GO tidak
memperlihatkan keluhan dan gejala. Tanda pada penderita GO baik lelaki dan
perempuan tanpa keluhan dan gejala.
a. Lelaki
-
Keluar
cairan putih kekuning-kuningan melalui penis
-
Terasa
panas dan nyeri pada waktu kencing
-
Sering
buang air kecil
-
Terjadi
pembengkakan pada pelir (testis)
b. Perempuan
-
Pengeluaran
cairan vagina tidak seperti biasa
-
Panas
dan nyeri saat kencing
-
Keluhan
dan gejala terkadang belum tampak meskipun sudah menular ke saluran tuba
fallopi
Bila gejala sudah meluas PID (Pelvic
Inflamatory Disease) maka sering timbul :
-
Nyeri
perut bagian bawah
-
Nyeri
pinggang bagian bawah
-
Nyeri
sewaktu hubungan seksual
-
Perdarahan
melalui vagina diantara waktu siklus haid
-
Mual-mual
-
Terdapat
infeksi atau anus
Bila GO
tidak diobati maka ± 1% dari lelaki dan wanita, akan terjadi DGI atau Dessiminated
Gonorrhoe Infection. Tanda dan gejalanya berupa demam, bercak di
kulit, persendian bengkak dan nyeri, peradangan pada dinding rongga jantung,
peradangan selaput pembungkus otak serta meningitis.
Komplikasi
Komplikasi
dapat timbul pada bayi, lelaki maupun perempuan dewasa:
1. Lelaki – prostatitis (radang kelenjar
prostat), adanya jaringan parut pada saluran kencing (urethra), mandul,
peradangan epididimis
2. Perempuan – PID, gangguan menstruasi
kronis, peradangan selaput onoga
rahim setelah melahirkan (post partum endometriosis), abortus, peradangan kandung kencing, peradangan disertai
pus.
Pencegahan
-
Menghindari
seks bebas (free sex)
-
Monogami
-
Penggunaan kondom saat vaginal, oral maupun anal
seks
§ Chlamydia
Chlamydia adalah infeksi yang disebabkan oleh
Chlamydia trachomatis dan dapat diobati. Chlamydia disebabkan oleh
bakteri chlamydia trachomatis. Bakteri ini dapat menginfeksi leher rahim pada
wanita dan uretra dan rektum pada pria dan wanita. Kadang-kadang klamidia juga
dapat mempengaruhi bagian lain dari tubuh, termasuk tenggorokan dan mata.
Klamidia seringkali tidak memiliki gejala, khususnya di kalangan perempuan.
Jika tidak diobati, klamidia dapat menyebabkan masalah serius di kemudian hari.
Penularan
Kuman ini menyerang sel pada
selaput:
a) Uretra, vagina, serviks dan
endometrium
b) Saluran tuba fallopi
c) Anus
d) Kelopak mata
e) Tenggorokan (insiden jarang)
Chlamydia paling sering menyerang pada usia muda dan
remaja. Penularannya dapat melalui hubungan seksual secara oral, anal maupun
oral seks; hubungan seksual dengan tangan, sehingga cairan mani terpercik ke
mata; dari ibu ke bayi sewaktu proses persalinan.
Tanda dan gejala
Sekitar 75 % perempuan dan 50% laki-laki
yang tertular Chlamydia tidak menunjukkan tanda dan gejala. Keluhan dan gejala
biasanya timbul sekitar 3 minggu setelah tertular kuman.
Adapun tanda dan gejalanya adalah :
1.
Menderita proktitis, urethritis (radang saluran kencing) dan
konjungtivitis (radang selaput putih mata).
2.
Pada wanita keluar cairan dari vagina, perasaan panas dan nyeri sewaktu
buang air kecil
3.
Bila sudah menyebar ke tuba fallopi, akan timbul nyeri perut
bagian bawa, nyeri sewaktu coitus, timbul perdarahan pervaginam diantara siklus
haid, demam dan mual-mual
4.
Pada pria keluar cairan kuning seperti pus dari penis, nyeri dan
rasa terbakar
sewaktu kencing, nyeri dan bengkak pada testis
Komplikasi
|
Perempuan
|
Laki-laki
|
Bayi baru lahir
|
|
PID
Infertil
Radang kandung kencing (cyctitis)
Radang serviks (servisitis)
|
Prostitis (timbul jaringan parut
pada urethra)
Infertil
Epididimis
|
KebutaanPneumoni (radang paru)
Kematian
|
Pencegahan
1) Hindari seks bebas
2) Monogami
3) Gunakan kondom saat hubungan seks baik dengan oral, anal
maupun
vaginal seks
§
Herpes
Herpes
genital disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks (HSV). Ada dua jenis HSV,
HSV-1 dan HSV-2, baik yang termasuk ke dalam kelompok yang lebih luas yang
disebut Herpesviridae. Lain virus terkenal dalam kelompok ini adalah
varicella zoster virus, yang menyebabkan ayam-cacar dan herpes zoster.
Secara
umum dapat dibagi menjadi:
· HSV-1 diperoleh secara lisan,
menyebabkan luka dingin.
· HSV-2 diperoleh selama kontak
seksual dan mempengaruhi daerah
genital.
Walaupun
herpes genital digunakan untuk hampir selalu disebabkan oleh HSV-2 infeksi,
HSV-1 adalah akuntansi untuk peningkatan jumlah kasus herpes genital di negara
maju.
Hanya sekitar 10-25% orang yang terinfeksi dengan HSV-2
sadar mereka telah herpes genital. Hal ini karena herpes genital sering akan
menghasilkan gejala-gejala ringan atau tanpa gejala sama sekali (infeksi asimptomatik).
Akibatnya, banyak kasus herpes genital tidak terdiagnosis dan sering orang
tidak sadar menularkan virus tersebut kepada pasangan seksual mereka.
Perbedaan HSV tipe I dengan tipe II
|
|
HSV tipe I
|
HSV tipe II
|
|
Predileksi
|
Kulit dan mukosa di luar
|
Kulit dan mukosa daerah genetalia dan perianal
|
|
Kultur pada chorioallatoic (CAM) dari telur ayam
|
Membentuk bercak kecil
|
Membentuk pock besar dan tebal
|
|
Serologi
|
Antibodi terhadap HSV tipe I
|
Antibodi terhadap HSV tipe II
|
|
Sifat lain
|
Tidak bersifat onkogeni
|
Bersifat onkogeni
|
Patogenesis Infeksi herpes genitalis dapat
sebagai :
a.
Infeksi primer – terjadi bila virus dari luar
masuk ke dalam tubuh penderita, DNA dari tubuh penderita melakukan penggabungan
dan mengadakan multiplikasi. Pada saat itu, tubuh host belum memiliki gejala yang
spesifik sehingga menimbulkan lesi lebih luas. Selanjutnya virus menjalar
melalui serabut syaraf sensorik menuju ganglion sakralis (syaraf regional) dan
berdiam disana.
b. Infeksi rekuren – Infeksi rekuren terjadi pada suatu waktu bila ada
tertentu (trigger factor) sehingga virus mengalami reaktivitas dan
multiplikasi kembali.
Tanda dan Gejala
·
Timbul erupsi bintik kemerahan, disertai rasa panas dan gatal pada
kulit region genitalis.
·
Terkadang disertai demam, seperti influenza, setelah 2-3 hari
bintik kemerahan berubah menjadi vesikel disertai nyeri.
·
5-7 hari, vesikel pecah dan keluar cairan jernih sehingga timbul
keropeng.
·
Kadang dapat kambuh lagi.
Komplikasi
·
Gangguan mobilitas, vaginitis, urethritis, sistitis dan fisura ani
herpetika terjadi bila mengenai region genetalia.
·
Abortus
·
Anomali
·
Infeksi pada onogamy (konjungtifitis/ keratis, ensefalitis,
vesikulitis kutis, ikterus, dan onogam konvulsi).
Pencegahan
Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal, anal dan
oral dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang efektif
mencegah penularan virus herpes genital melalui hubungan
seks. Kondom dapat mengurangi resiko tetapi tidak dapat
menghilangkan resiko tertular penyakit ini melalui hubungan
seks. Walaupun memakai kondom saat melakukan hubungan seks, masih
ada kemungkinan untuk tertular penyakit ini yaitu melalui adanya luka di daerah
kelamin.
§ Sifilis
Sifilis adalah penyakit yang disebabkan oleh Treponema Pallidum, bersifat kronik dan
sistematik. Nama lain adalah Lues venereal atau raja singa.
Penyebabnya adalah Treponema Pallidum, termasuk ordo Spirochaecrales, familia
Spirochaetaceae dan genus Treponema. Bentuk spiral teratur, panjang 6-15 µm,
lebar 0,15 µm, terdiri atas 8-24 lekukan. Pembiakan secara pembelahan
melintang, pada stadium aktif terjadi setiap 30 jam.
Klasifikasi
Sifilis terbagi menjadi sifilis
congenital dan sifilis akuista.
1. Sifilis Kongenital, terbagi atas :
a) Dini (sebelum 2 tahun); b) Lanjut (sesudah 2 tahun); Stigmata
2.
Sifilis Akuista, terbagi : a) Klinik; b) Epidemiologik
Menurut cara pengobatannya sifilis dibagi menjadi tiga stadium yaitu :
Stadium I (SI), Stadium II (SII) dan Stadium III (SIII).
WHO membagi menjadi :
·
Stadium dini menular ( dalam waktu 2 tahun sejak infeksi), terdiri
dari SI, SII, stadium rekuren dan stadium laten dini.
·
Stadium lanjut tak menular (setelah 2 tahun sejak infeksi),
terdiri atas stadium laten lanjut dan SIII.
Komplikasi
Pada kehamilan:
a.) Kurang dari 16 minggu : kematian janin
(sifilis fetalis)
b.) Stadium lanjut : gangguan pertumbuhan
intra uterin, cacat berat
Tanda dan gejala
·
Lesi (berupa ulkus, soliter, dasar bersih, batas halus, bentuk
bulat/longitudinal)
·
Tanpa nyeri tekan
Pencegahan
Tidak melakukan hubungan seks
secara vaginal, anal dan oral dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya
cara pencegahan yang paling efektif mencegah penularan sifilis melalui hubungan
seksual. Kondom dapat mengurangi tetapi tidak menghilangkan risiko
tertular penyakit ini melalui hubungan seks. Masih ada kemungkinan
tertular sifilis walaupun memakai kondom yaitu melalui luka yang ada di daerah
kelamin. Usaha untuk mencegah kontak non-seksual dengan luka, ruam
atau lapisan bermukosa karena adanya sifilis juga perlu dilakukan.
- Penanganan PMS yang Benar
1.
Segera periksa ke dokter
untuk diobati
· Jangan mengobati PMS sendiri tanpa
mengetahui penyakit apa yang menyerang (karena jenis PMS sangat banyak dan ada
kemungkinan terjadi komplikasi), dibutuhkan test laboratorium untuk memastikan
PMS yang diderita.
· Jangan minum obat sembarangan. Obat
PMS berbeda-beda, tergantung jenis PMS yang diderita.
·
Jangan pergi berobat ke pengobatan tradisional atau tukang obat.
Hanya dokter yang tahu persis kebutuhan obat untuk PMS yang diderita.
Penggunaan obat herbal dilakukan (sebaiknya) jika ada yang mengawasi/penanggungjawab.
2.
Ikuti saran dokter
Jangan menghentikan minum obat yang diberikan dokter
meskipun sakit dan gejalanya sudah hilang. Jika tidak diobati dengan tuntas
(obat dikonsumsi sampai habis sesuai anjuran dokter) , maka kuman
penyebab PMS akan kebal terhadap obat-obatan.
3.
Jangan berhubungan seks selama dalam pengobatan PMS
Hal ini berisiko
menularkan IMS yang diderita kepada pasangan seks.
4. Jangan hanya berobat sendiri saja
tanpa melibatkan pasangan seks (khususnya pasangan sah)
Pasangan seksual juga harus
diperiksa dan berobat ke dokter. Jika tidak, PMS yang diderita akan tertular
dari kita ke pasangan kita, kemudian dari pasangan kita ke kita dan seterusnya.
Kedua belah pihak harus disembuhkan agar tidak saling menulari kembali.
- Pencegahan PMS
Pencegahan penyebarluasan IMS hanya dapat dilakukan
dengan cara :
- Menjauhi
seks bebas, tidak melakukan hubungan seks (abstinensi).
- Bersikap
saling setia, tidak berganti-ganti pasangan seks dan saling setia.
- Cegah
dengan memakai kondom, tidak melakukan hubungan seks berisiko
(harus selalu menggunakan kondom).
- Tidak
saling meminjamkan pisau cukur dan gunting kuku.
- Edukasi,
memberikan informasi mengenai HIV/AIDS dan IMS kepada kawan-kawan Anda.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Penyakit
menular seksual adalah penyakit yang menyerang
manusia dan binatang melalui transmisi hubungan seksual, seks oral dan seks anal. Kata penyakit menular
seksual semakin banyak digunakan, karena memiliki cakupan pada arti' orang yang
mungkin terinfeksi, dan mungkin mengeinfeksi orang lain dengan tanda-tanda
kemunculan penyakit. Penyakit menular seksual juga dapat ditularkan melalui
jarum suntik dan juga kelahiran dan menyusui. Infeksi penyakit menular seksual
telah diketahui selama ratusan tahun.
Beberapa
Penyakit Menular Seksual yang sering ditemukan di Indonesia antara lain :
- Disebabkan
oleh Bakteri : Gonorrhoe, Sifilis, Urethritis, Vaginosis Bakterial
- Disebabkan
Virus : AIDS, Herpes Genitalis, Hepatitis B, Kondiloma Akuminata
- Disebabkan
oleh Jamur : Kandidiasis Vaginosis
- Disebabkan
oleh Parasit : Scabies, Pedikulosis Pubis
Prinsip utama
dari pengendalian Penyakit Menular Seksual secara prinsip ada dua, yaitu: Memutuskan rantai penularan infeksi PMS, Mencegah
berkembangnya PMS serta komplikasi-komplikasinya. Yang lebih
penting dari semua itu adalah menjaga nilai-nilai moral, agama, nilai etika dan
norma kehidupan bermasyarakat karena dengan moral dan etika yang baik kita akan
terhindar dari gangguan atau penyakit yang akan membawa kita dalam masalah
serius.
B.
SARAN
Setelah mengetahui etiologi, gejala dan tanda, mekanisme
penularan, serta beberapa faktor risiko penyakit menular seksual maka :
a.
Bagi
Pemerintah diharapkan untuk terus mengingatkan masyarakat agar dapat terhindar
dari Penyakit Menular Seksual serta membuat kebijakan yang mendukung masyarakat
untuk mejaga perilaku dan lingkungan.
b.
Bagi
seluruh komponen masyarakat agar mampu meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan
terhadap Penyakit Menular Seksual, karena selain berdampak pada penurunan
kesehatan dan daya tahan tubuh, menularkan kepada orang lain penyakit ini juga
mampu menyebabkan kematian.
c.
Bagi praktisi kesehatan diharapkan lebih
peka terhadap hal-hal yang bersinggungan dengan PMS terhadap masyarakat dengaan
adanya bahan-bahan bacaan yang menjadi literatur.